Translate

Tampilkan postingan dengan label cerpen dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen dunia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Oktober 2011

Cerpen nyentrik Jaka Tarub tamat

cerpen nyentrik Jaka Tarub episode 11 (Dewi Nawang Wulan Pulang Kampung)

Baca cerita sebelumnya: episode 10

Akhirnya Jaka Tarub mengakui perbuatannya daripada nanti bonyok digebuki massa yang marah,bahwa ia yang menyembunyikan selendang Dewi Nawang Wulan seperti pada kisah Jaka Tarub nggembol selendang di saku jeannya.
Dan Dewi Nawang Wulan menagih janjinya ketika Jaka Tarub nglamar Wulan ,bahwa ia mau diperistri Tarub asal jika pesawat angkasanya ketemu ia diijinkan pergi.
Negosiasi alot terjadi antara keluarga Tarub dengan Nawang Wulan.
Nawang Wulan tetap pada pendiriannya,ia harus mudik ke desanya meski tidak lebaran.

"Meski aku menangis tujuh kali sehari,tapi itu keputusanmu,aku tak bisa melarangmu dik Wulan."Jaka Tarub sambil prembik prembik nangis.
"Tapi bagaimana dengan Nawang Sih anak kita dik Wulan?"Tarub melanjutkan sambil memelas.
"Mas Tarub,aku titipkan anak kita,besok kalau besar suruh nyari aku ya."Jawab Wulan.
"Begitunya sih gak papa dik,tapi ia masih nyusu kamu,sedang kamu tahu aku gak punya anu..."
"Gampang Mas Tarub belikan saja susu kaleng atau bubuk,beli sesuai usia ya mas."jawab Wulan.
Tarub sudah nggak bisa menahan kepergian Dewi Nawang Wulan.

"Sudahlah sudah,gak ada waktu,gak ada waktu mikirin kamu,pergi pergilah jauhi diriku,mendingan kamu ke laut aja lho."Man Cungkring yang gregeten nyanyikan reffrain lagunya RADJA.

Nawang Wulan siap meluncur dengan roket angkasanya.
"WUSS!!! Sampai setinggi pohon kelapa Nawang Wulan berhenti dan melambaikan tangannya pada Jaka Tarub dan Nawang Sih yang masih bayek.
Nawang Sih sepertinya tahu ibunya meninggalkannya,ia nangis.
Jaka Tarub haru dan ikut menangis.

"Rub,kamu gak usah sedih,biar saja dia pergi,kamu kan bisa kawin lagi."simbok mendatangi Tarub dan memandang sewot kepada Nawang Wulan.
"Apa mbok?Kawin lagi?"Jaka Tarub jenggelek sumringah mendengar kata kawin lagi.
"Oke mbok,beres."Lanjutnya.

Tiba tiba Nawang Wulan turun lagi.
"Dasar lelaki!"kata Nawang Wulan sambil ngambil hanphone di saku celananya.
"Kenapa dik Wulan,kamu gak jadi minggat?"tanya Tarub.
Nawang Wulan gak njawab Tarub,dia mijit mijit nomer telpun.

"Halo,ini siapa?"Tanya suara lelaki dari seberang yang terdengar keras karena diloudspeaker.
"Mas Dewa 19,ini aku mantanmu."jawab Nawang Wulan.
"Dimana dimana,kemana dik Wulan,kamu menghilang selama ini?"Tanya Dewa mantan pacar Dewi Nawang Wulan.
"Kamu kucari kemana mana,ternyata alamat palsu yang kau berikan dik Wulan."Lanjut Dewa.
"Eleh,niru Ayu Ting Ting."Tarub yang sebenarnya cemburu nyeletuk.

"Sudah Rub gak usah diladenin,biar saja dia pergi."Man Cungkring mendekati Tarub.
"Rub, nanti kamu aku kenalkan gadis gadis atau janda,tinggal pilih,yang seperti Dewi persik,Inul Daratista atau kamu kepingin aku kenalkan yang seperti Jesica Iskandar yang katanya pacar Olga,tinggal pilih."lanjut Man Cungkring.

Dewi Nawang Wulan yang merasa gak ada yang mbelain,langsung tancap gas tanpa tolah toleh,wusss...,melesat dengan pesawat kelas VIP mulih ke negaranya.

(cerpen nyentrik Jaka Tarub sudah Tamat,jangan lupa sekali sekali balik ke blog ini tentu dengan gaya cerpen yang berbeda.Maturnuwun)

Minggu, 16 Oktober 2011

cerpen nyentrik Jaka Tarub

cerpen nyentrik Jaka Tarub

episde 9 ( Dewi Nawang Wulan melahirkan)

Kisah sebelumnya: episode 8

Sejak peristiwa dipublikasikannya trik sulap oleh pesulap
bertopeng,Dewi Nawang Wulan tidak mood lagi menggunakan trik memasak
sebatang padi menjadi nasi sebakul.
Kini dia harus memasak beras tiga perempat kilo untuk jatah makan
sehari bagi Tarub dan keluarganya.

Padi di lumbung sudah banyak berkurang,tapi untunglah ada jatah
RASKIN dari pemerintah yang dibagikan di balai desa.

Jaka Tarub tidak lagi malas malasan mencari burung ke hutan,selain
untuk konsumsi sendiri daging burung yang ia dapat dijualnya di pasar
krempyeng setempat.

"Kadang lumayan juga sih,kalau ada pesenan burung podang dari ibu
ibu yang anaknya belum bisa ngomong,biar cepet ngomong dikasih lidah
burung podang."
"Apalagi pas mikat burung perkutut dan dapat yang suaranya kung,bisa
ditawar jutaan bahkan ratusan juta mas."Demikian pengakuan Jaka Tarub
ketika diwawancarai sebuah TV swasta .

Pagi pagi sekali ia berangkat sore baru pulang,getol nyari burung
buat persiapan biaya persalinan istrinya yang tinggal nunggu pagi
sore.

"Mas Tarub,perutku sakit mas."panggil Dewi Nawang Wulan yang sedang
numbuk padi di lesung,soalnya nunggu tukang selep keliling nggak lewat
lewat.
"Jangan jangan kamu mau melahirkan dik?"Tarub mendatangi istrinya.
"Tapi sekarang sembuh mas?"Ketika Tarub datang sakitnya hilang.

Sebentar sakit sebentar hilang.

"Aduh mas sekarang sakit sekali,saya gak tahan mas."
Kemudian Tarub menuntun istrinya ke dalam kamar.

"Rub,istrimu itu mau melahirkan."kata simbok yang melihat menantunya
meringis menahan sakit yang luar biasa.
"Ayo Rub,kamu cepet cepet panggil mbah Niyem untuk menolong
istrimu."perintah simbok.

Tarub yang neurvos karena ini pertama kali jadi bengong.

"Ayo cepetan,biar istrimu aku yang nunggu!"bentak Simbok sambil
nyablek pundak Tarub.

"Sudah,kamu keluar,,,jangan ndlongop di situ."bentak mbah Niyem yang
siap membantu persalinan Nawang Wulan,karena dilihatnya Jaka Tarub
dongang dongong di dalam kamar.

Nawang Wulan melahirkan dibantu Mbah Niyem,dukun persalinan yang
kondang dan bersertifikat dari PUKESMAS dan dari Dinas Kesehatan
setempat.

"Oek,oek,,,"Dari dalam terdengar tangisan bayi.

Dewi Nawang Wulan melahirkan bayi perempuan seberat 3,1 kilogram.

Setelah semuanya beres,tinggal tarub harus menanam ari ari di pojok
teras dan dikasih lampu minyak.Berhubung sudah lama Tarub gak pakai
lampu minyak Tanah,digantinya dengan dop lima watt.

"Hemm,demi cinta istri dan anak."setengah menggerutu Tarub ketika
disuruh nyuci kain kebaya bekas istrinya melahirkan.


"Saya atas nama keluarga mas Tarub mengucapkan terimakasih atas
kehadiran bapak bapak pada tasyakuran malam ini.Dan masTarub serta
mbak Wulan diberi momogan seorang putri yang cantik dan diberi nama
Dewi Nawang Sih,,semoga menjadi anak yang baik."pak Wongso menutup
acara syukuran yang dilaksanakan Jaka Tarub atas kelahiran putrinya.

"Amiin."para undangan bersama sama mendoakan Dewi Nawang Sih.

"Jempolku sakit Rub."kata penulis.
"Kenapa Mas?"
"Aku ketik via hape.

"Ya sudah,dilanjutkan nanti saja mas."kata Tarub sambil menunjuk meja.
"Opo Rub?"penulis menoleh meja,ternyata Tarub nyuruh minum kopi
sambil mer....membakar tembakau.

--
Dikirim dari perangkat seluler saya

Kamis, 13 Oktober 2011

CERPEN NYENTRIK

cerpen nyentrik: Jaka Tarub episode 7 ( Mbok Rondho Dadapan mantu).
Baca kisah sebelumnya: episode 6

Setelah akhirnya Dewi Nawang Wulan menerima lamaran Jaka Tarub dengan
syarat jika pesawat angkasanya yang berupa selendang ditemukan,ia
harus diijinkan pulang ke negaranya kahyangan.

Tentu saja Tarub harus bersedia membelikan tiket pesawat,mengurus
paspor dan harus membayar gaji Nawang Wulan selama ikut Jaka Tarub.

Acara perhelatan pernikahan siap dilaksanakan.

"Wah Rub,kamu tinggal setengah bulan lagi rabi,mau ditanggapke opo
Rub?"Tanya Man Cungkring pada Tarub ponakan yang amat dikasihinya.
"Hemm,apa ya Lik,,apa enaknya ngundang Sodik dan MONATA nya?"Usul
Tarub yang memang seneng Dangdutan.
"Wah jangan Rub,nanti kita harus tambah biaya sewa keamanan
rangkap,soale kalau bocah kene ditanggapke dangdut kadang gelutan."
"Opo Didi Kempot wae Rub?"lanjut Man Cungkring yang suka campursari.
"Wah,kalau Didi Kempot belum tentu bisa Man,soalnya dia sering job
ke Suriname."Tarub menyahut sambil membatin:"Pancen senenganmu Man."
"Lik cungkring,mas Tarub,mbok nanti pernikahanku dengan mas Tarub
ngundang Ayu Ting Ting saja." tiba tiba Nawang Wulan mbejedul sambil
membawa dua cangkir kopi plus telo untuk Tarub dan Pamannya.
"SETUJU...!"seperti paduan suara Cungkring dan Tarub bengok bengok.
"Paman dan keponakan podo podo ra mbeneh!" simbok muncul sambil
nambah telo goreng yang diludeskan Man Cungkring.
"Ra mbeneh piye to Yu,anakmu mung siji,kalau nikahnya rame rame kan
wajar to?"cungkring semaur
"Nanggap nanggap,rame rame,duwite kowe po yang mbayari?

Akhirnya perayaan nikah Tarub dan Nawang Wulan tiba.
Nanggap hiburan sound system, iuran para anggota KARANGTARUNA dimana
Tarub aktif berorganisasi.
Dewi Nawang Wulan dan Jaka Tarub nrimo hanya ditanggapke Tape
recorder dengan corong kukusan.
"Yah, ntar hasil orang orang nyumbang,ndak usah mbayar hiburan ya
dik,bisa untuk yang lain."bisik Tarub pada Wulan saat duduk diatas
kuade.
"Inggih mas,bisa buat beli motor,daripada nanti kredit."balas Wulan
sambil menoleh penulis.
"Opo Lan Wulan,ngomong kredit kok ngeliat aku?"tanya penulis.
"Nggak apa apa Mas Penulis."Wulan sambil menggeleng.
"wo kamu,nggak tahu,di pasang iklan dibawah buat nambahin mbayar
kreditan plus ganti biaya ngenet."Penulis melotot.

Wulan yang melihat penulis melotot dan merengut,nyahut tangan Jaka
Tarub dan menggenggamya,sambil mimiknya ngiming iming.

"Dimana akan kucari,aku menangiiis seorang diri,hatiku selalu ingin
bertemu,untukmu aku bernyanyi." tiba tiba suara sound system yang
mustinya Kebo Giro terputar lagu kenangan.Tukang putar CD nya salah
ambil.

Jaka Tarub tanpa sadar prembik prembik sambil meneteskan airmata.
"Mas ada apa?"tanya Wulan dengan mesra sambil ngelus kepala Tarub.

"Aku ingat bapak dik."jawab Tarub sambil ndangkluk lemes ingat
bapaknya yang meninggal sejak ia bayi.
"Sudah mas,jangan sedih,,kok kalah sama aku,rabi ndak ditungguin
siapa siapa tetep happy."Wulan menasehati Tarub sambil mengencangkan
genggaman tangannya.
"Awas mas,kalau nanti malam lemes ndak bisa assolole tak jewer
kupingmu."ancam Wulan.
Mendengar kata asolole Tarub langsung njenggelek tegak sambil ngusap
luh neng pipine.

"Uokey dik Wulan,aku siap assolole nanti malam,sudah minum rasa rosa."
"Mas Tarub,pelan pelan ngomongnya dilihat para tamu."Wulan membekap
mulut Tarub.
"Maksud saya,nanti malam mas Tarub harus mbantuin aku mbukak kado
kado dan nyatet dari siapa saja,biar Wulan gak capek."Lanjut Dewi
Nawang Wulan.
"...jiaahhh,Rub Tarub,,loe kirain assolole ngapain?

Jaka tarub,kembali nglumbruk dan prembik prembik.

Sekian dulu,nantikan kelanjutannya dan baca juga cerpen
lainnya.SUGENG MAKARYO,SEMOGA SUKSES untuk sahabat cerpen dunia maya

--
Dikirim dari perangkat seluler saya

Sabtu, 08 Oktober 2011

CERPEN NYENTRIK

cerpen nyentrik: Jaka Tarub


episode 5 : (Simbok muring muring)


Baca kisah sebelumnya : episode 4


Setelah Dewi nawang Wulan bersedia diajak pulang ke rumah Tarub,mereka menghampiri Man Cungkring yang tadi di seberang telaga.


"Oalah Man,kok ya bisa nglakoni."kata Tarub yang melihat pamannya ternyata tidur nyenden batu dan bibir ndoweh
"Siapa sih mas orang kurang gisi itu?"Tanya Dewi Nawang Wulan yang juga melihat paman Cungkring yang memang Cungkring."
"Dia pamanku Dik Wulan."
"Orang kok garing,waktu kecil gak pernah diajak ke posyandu kali mas."timpal Dewi Nawang.
Tarub tiba tiba ngelirik penulis.
Penulis merasa gak enak dengan lirikan Tarub,diacungkan kepalan ke arah Tarub:"awas koen Rub"!


"Man,bangun,ayo pulang."Tarub membangunkan Man Cungkring sambil nepuk pundak pamannya itu.
"A,u,aa,lha."Paman Cungkring masih bengong.
"Kelamaan Man!"Tarub kemudian menarik lengan pamannya.


Mereka bertiga pulang.


Sementara Dewi Nawang Wulan disuruh Tarub duduk di ruang depan.
Simbok yang melihat Tarub datang tiba tiba ngawe ke arah anaknya itu.


Tarub diajak ke belakang Rumah.
"Rub,kamu jangan kurang ajar yo!"kata simbok sambil mentheleng.
"Opo se mbok?"Tarub bingung
"Rub,kamu ubyak ubyuk sama cah wedok,siapa dia?"
"Anu mbok,,,"Belum selesai Tarub menjawab simbok nggremeng lagi:
"Simbok malu Rub,kamu grudak gruduk sama gadis anak orang."Sambil tetap melotot kepada Tarub.
"Coba,apa kata orang nanti,Tarub belum tutuk sekolah sudah nggandengi cak wedok."
Jaka Tarub masih diam menunggu reda kemarahan simboknya.
"Salah salah Rub,kamiU bisa dituduh dengan dakwaan pasal berlapis,penculikan dan melarikan anak orang."
"Ah,simbok nih nggak gaul."Tarub merengut.
"Ayo,siapa dia,segera antar pulang!"bentak simbok.
"Mbok jangan kenceng kenceng,nanti dia dengar."pinta Tarub.
"Udah deh mbok,simbok tanya saja sendiri sana."kemudian Tarub menuju senthong ngumpet sambil ngintip mbak Dewi.


Simbok cincing cincing seweknya melangkah menuju ruang depan dimana Dewi Nawang Wulan berada.


"UWIH!!!cerita yang sulit nulisnya."penulis membatin sambil ngongkek boyok


Jangan ketinggalan ikuti terus lanjutnya setelah sebelumnya tersisip cerpen: " cerpen Sepenggal kisah."

Jumat, 07 Oktober 2011

cerpen Sepenggal kisah

cerpen


Meski Ikem menikah dengan Yo karena dijodohkan,iya sangat mencintai suaminya.


Pengabdian sebagai seorang istri diberikan seutuhnya kepada Yo,suaminya.


"BRAKK!!"Suatu malam ketika Ikem dan Yo sedang tidur,pintu rumah didobrak.
"Yo,yang namanya Yoyo keluar!"teriak seseorang dari ruang depan.
"Siapa ya?"Ikem yang terbangun keluar kamar sambil menggendong Milah,anaknya yang nomer dua yang masih berusia tiga tahun.
"Yoyo,suamimu mana,suruh keluar!"bentak lelaki tinggi besar yang ternyata di belakangnya ada beberapa orang yang mengikuti.
"Ada apa pak mencari suamiku?"Tanya Ikem yang mulai takut atas kekasaran orang itu.
"Banyak omong!"bentak lelaki itu sambil mendorong Ikem dan berjalan menuju ruang tengah.


Lelaki sangar itu kemudian masuk kamar dimana Yoyo berada.


Tetapi Yo tidak ada,hanya anak laki laki Ikem yang berumur lima tahun yang sedang tidur di dipan.


Lelaki itu matanya jelalatan ke sana kemari mencari Yo,yang kemudian menemukan Yo dibawah dipan.


"Ayo keluar!"lelaki itu membentak sambil menarik Yo keluar.


Yo kemudian diseret keluar dan terus dibawa lelaki itu bersama teman temannya.


Yo sempat melihat Ikem,seperti meminta pertolongan agar ia tidak dibawa lelaki itu.
Tapi ikem tidak bisa berbuat apa apa.


Peristiwa yang sangat lekat dalam ingatan Ikem.


Berhari hari,berbulan bulan bahkan sampai tiga tahun Yo suaminya tidak pernah pulang.


Ikem dan keluarganya menyatakan Yo meninggal diculik orang,demikian juga keluarga Yoyo,setelah beberapa tahun Yo tidak pulang.


Setiap tahun keluarga Ikem dan Yo mengadakan selamatan dan doa diperuntukkan Yoyo.


"Nanti malam selamatan untukmu mas Yo."batin Ikem ketika ia memasak untuk selamatan suaminya nanti malam.


Tiba tiba hati Ikem sangat merindukan suaminya,dan teringat betapa memelasnya ketika suaminya menatap dirinya waktu diseret lelaki itu.Hatinya gelisah mengingat peristiwa sekitar limabelas tahun itu.


Bahkan selama itu Ikem tetap menjanda karena cinta yang mendalam kepada Yo suaminya.


"Permisi."tiba tiba Ikem dikejutkan ketukan pintu dan salam seseorang.
Ia tidak melihat kehadiran orang itu di halaman rumah.


"Mari silahkan masuk."Ikem mempersilahkan masuk tamunya.


Setelah mempersilahkan duduk tamunya Ikem menanyai tamu yang tidak dikenalnya.


"Siapa ya pak dan bapak dari mana?"
"Apakah kamu lupa Kem?"tanya lelaki yang ditemani anak kecil itu.
Kemudian Ikem mengingat ingat siapa tamunya ini.


"Oh,mas Yo!"pekiknya.
"Iya Kem,aku suamimu Yoyo."


Ikem tidak bisa menggambarkan perasaannya antara senang dan tidak percaya.
"Mas,anak kecil ini siapa?"tanya Ikem.
"Maaf ya Kem,ini anak saya."jawab lelaki itu.


Meski terkejut Ikem tidak menampakkannya,suami yang dinyatakan meninggal kini datang dan telah menikah dan punya anak.


Yoyo kemudian menceritakan bahwa orang yang membawanya dulu adalah orang orang yang dinyatakan gerombolan PKI.
Yo tidak dibunuh dan dilepaskan.
Karena ia dalam ketakutan Yo melarikan diri ke Kalimantan.
Beberapa tahun kemudian ia menikah di sana dan kemudian mempunyai tiga anak dan yang ing yang paling kecil.


Meski Ikem masih mencintai Yoyo,tapi ia tidak mau rujuk dengannya,ia tidak mau menyakiti hati perempuan yang sekarang menjadi istri suaminya yang pernah dianggap meninggal.


(nama,tempat,kejadian yang sama bukan unsur sengaja)

Sabtu, 24 September 2011

WITGET BUTO CAKIL WITGET BUTO CAKIL

cerpen dunia maya kali ini tidak nyerpen tetapi membicarakan tentang witget.
Witget yang saya maksud bukan dalam arti tutorial tetapi dalam bentuk arti mengapa kok saya suka memasang witget header dengan gambar buto cakil.(ben menarik para pembaca dari kalangan blogger.hahaha/penulis>.

LANJUTKAN!!!

Baiklah sebelumnya saya akan berkisah sedikit tentang buto/buta cakil ini.Bagaimana kisahnya?
(tulisan tentang buto cakil sudah pernah ada dalam beberapa blog dan koran,untuk koran pernah saya baca pada tahun 80 an)

Buto cakil,raksasa kecil yang lincah yang dalam pewayangan sebagai raksasa penunggu hutan dan seorang prajurit raksasa penjaga perbatasan kerajaannya.
Dalam kisah dalam setiap adegan pemunculannya dia pasti bertemu dengan satria yang akan melewati hutan wilayahnya.
Cuplikan pembicaraan pembicaraan buto cakil dan seorang Satria:

Buto Cakil: "We ladala berhenti satria tampan,siapa namamu dari mana asalmu?"
Satria: "Buto buto,ludahmu muncrat muncrat,tanganmu kesana kemari,siapa namamu darimana asalmu?"
Buto Cakil: "We ladala,ditanya malah bertanya."

CUT!!!( Saya bukan dalang) tetapi untuk melanjutkan cuplikan dialog buto cakil dengan satria Guanteng dan mengapa saya pasang gambar witget header buto cakil

masih akan saya lanjutkan pada posting berikutnya. Maaf ya baca lanjutnya saja deh di WITGET BUTO CAKIL BAGIAN DUA dan tunggu kisah kisah lain yang menarik dari Cerpen Dunia Maya

Kamis, 22 September 2011

NUSTRADEMOS ANONAMEOS

cerpen:


Insiden kecil terjadi,hampir saja si Joko ditonjok sama Gendut.Untung segera dilerai mas Gondrong.

"Sudah Ndut,apaan sih,begitu aja."kata Mas Gondrong sambil memegang Gendut.
"Nih bocah kurang ajar banget,ndak sopan!"Gendut masih nampak emosi,mukanya merah padam dan manyun.
Joko juga tampak marah,tapi ia menyadari telah berbuat salah,lagian orang orang di warung menggerutu padanya.

Bermula sejam yang lalu,Gondrong dan Gendut datang ke warung untuk makan siang.Dua mahasiswa ini jika istirahat pasti nyangkruk ngopi di warung yang juga langgananku.

"Man,pak de Pardi sudah datang belum?"Gondrong menanyaiku.

"Belum mas,mungkin potong rambutnya rame."
"Tu dia."kata Gendut yang melihat pak de Pardi datang.
"Ada apa nak Gendut?"tanya pak De Pardi.
"Tuh pak de dicari Gondrong."

"Biasa pak de,dongengnya ditunggu."Gondrong menyahut.

Gondrong selalu meminta pak de Pardi bercerita tentang filsafat jawa atau ramalan ramalan dan unen unen kuno.
Dan Gondrong pasti bisa bisa saja menggabungkan dengan keadaan sekarang.
Seperti kemarin pak de Pardi menceritakan.

"Nak Gondrong,kata orang orang tua besok kalau ada rejaning jaman ,pasar ilang kumandange
"Apa artinya pak de?"sela Gendut yang tidak bisa bahasa jawa.
"Besok kalau jaman ramai atau maju pasar sudah gak kedengeran gaungnya."jawab pak de Pardi.

Gondrong seperti orang berfikir dan tiba tiba:"Sudah terbukti pak De!"
"Maksud nak Gondrong?
"Bagaimana gak kehilangan gema dan gaungnya pak De,orang di sekitar pasar banyak gedung tinggi,rumah rumah padat.Kalau dulu belum ada gedung pak de,jadi meskipun satu kilo bisa terdengar ramainya pasar."jawab Gondrong.

Gendut manggut manggut.
"Ah bisa saja mas Gondrong."kataku.

Kali ini pak De Pardi mengatakan:"Nak Gondrong,kata orang orang tua,besok kalau ada rejaning jaman ana suara ora ana rupa,maksudnya ada suara gak ada wujudnya."

Tiba tiba orang orang di warung dikejutkan dering handphone Gendut.
Gendut keluar warung untuk mengangkat hanphonenya.

"Nah,ini dia pak De sudah ketemu maksudnya!" tiba tiba mas Gondrong berkata sedikit menyentak.
"Apa mas Gondrong,bikin terkejut saja."kataku.

"Ha ha ha,itu dia!"Mas Gondrong menunjuk hanphone Gendut yang akan dimasukkan saku.
"Itu kan ada suara gak ada rupanya,karena handphone Gendut bukan 3G."seloroh mas Gondrong.
"Itu juga."mas Gendut menuding radio pemilik warung.

"Pak De,sebenarnya siapa yang membuat unen unen berbau ramalan itu?"Tiba tiba mas Gondrong bertanya.
"Wah,aku nggak tahu nak Gondrong,orang itu kata orang tua."

"Wah kamu tidak tahu Ndrong,itu yang ngramal Nustrademos Anonameos."Canda Gendut.

Tiba tiba Joko yang dekat Gendut nyeletuk:"Ini ada suara gak ada wujudnya."Dan:"THUUUT!!"Joko kentut dibuat buat.
Orang di warung menggerutu dan Gendut yang makan di sebelahnya marah dan hampir memukulnya.



cerpen nyantai by: Cerpen Dunia Maya.

Minggu, 18 September 2011

Pak Lik Saya

cerpen dunia maya:

"Bu Nem ada yang minta sumbangan."Kata bu Endah kepada bu Minem ketika sampai pintu kantor guru.
Yang diajak bicara tidak menjawab,bu Minem sibuk mengoreksi hasil ulang matematika kelas enam.

"Bu,ada yang minta sumbangan tuh!"Kali ini agak keras dan sambil menepuk pundak bu Minem.
Bu Minem agak terkejut.
"Lho,minta sumbangan ya dikasih to,kok ngomong saya?"Jawab bu Minem.
"Orang dikasih gak mau kok bu."bu Endah menjelaskan.
"Gak mau bagaimana?"Tanya bu Minem yang telah selesai mengoreksi ulangan muridnya.
"Dia minta sumbangannya dengan menjual barang bu,seperti tulisan Pancasila yang ditulis di kain."
"Ya sudah dibeli saja dan minta sumbangan kepada guru yang lain."Saran bu Minem.
"Ah,bu Minem saja,saya gak berani."jawab bu Endah.
"Uh,dasar."bu Minem seraya keluar ruangan.


Lelaki tak bertangan itu telah limabelas menitan duduk dibawah tiang teras depan kelas lima.
Meski perasaannya gelisah ia bersabar menunggu para guru membeli dagangan yang di bawanya.
"Bapak dari yayasan apa?"tanya pak Wandi ketika lewat.
Lelaki tak bertangan itu berdiri:"Maaf pak silahkan ambil surat surat dalam map di dalam kaos saya."
Pak Wandi mengambil map yang ujungnya nampak tersembul di bawah dagu orang itu,sedang orang itu sedikit membusungkan dada.
Lelaki tak bertangan itu menyandarkan badannya pada tiang,sehingga ketika bu Minem keluar kantor tidak bisa melihat jelas,kecuali ujung bawah baju yang tertiup angin,karena terhalang tiang.

"Dari yayasan apa pak?"tanya bu Minem ketika sudah dekat pak Wandi.
"Ini bu dari yayasan penderita cacat."Jawab pak Wandi.
Lelaki tak bertangan itu menatap bu Minem,demikian juga bu Minem.

"LHOH!" Keduanya bergumam lirih sama sama terkejut.
Lelaki tak bertangan itu mengedipkan mata,berharap supaya bu Minem diam dan pura pura tidak kenal.
Bu Minem tidak menghiraukan itu,ia mendekati lelaki itu merangkul dan menciumminya.

"Lho,ada apa ini?"tanya Pak Wandi.

Bu Minem tak menghiraukan pertanyaan pak Wandi,segera diajaknya lelaki itu ke kantor guru.Pak Wandi menyusul.

Kebetulan jam istirahat para murid,para guru menuju kantor.

"Kenapa Lik,tetap saja lik dimanapun pak Lik ini tetap pak Lik saya."
"Saya khawatir Nem,kamu malu dengan teman teman gurumu."
"Malu malu,orang memang pak Lik saya kok malu."jawab bu Minem.

Guru guru telah berkumpul.
"Siapa to bu Nem sebenarnya?"tanya bu Mujirah.
Kemudian bu Minem memperkenalkan kepada teman teman gurunya.
"Ini adalah pak lik saya yang tinggal di Madiun,dulu ikut akrobat,tapi sekarang tidak."
Kemudian ada yang tanya:"Maaf pak,kok tangannya,,?"
Yang menjelaskan bu Minem karena tampaknya lelaki itu masih terharu dengan sikap bu Minem.

"Dulu waktu pak lik saya ini masih remaja,kerjanya cari kayu ke hutan Saradan dengan naik kereta api."

"Nah,kalau ke hutan Saradan naik kereta api,tapi kalau turun harus lompat,pas lompat pak Lik saya tersandung batu,jatuh tangannya yang kanan tergilas roda,sedang yang satu patah,oleh dokter dipotong sekalian karena tidak mungkin disembuhkan."terang bu Minem.

Senin, 25 Juli 2011

Tito Hilang

Tito hilang!Ya anak mbak Lastri Tito yang berumur empat tahun hilang.

Orang orang datang ke rumah mbak Lastri setelah mendengar jeritan
dan teriakannya.

"Ada apa Tri,teriak teriak?"tanya pak Antan.
"Tito hilang pak."Jawab mbak Lastri.
"Maksudnya?Tanya mas Didin.
"Sejak maghrib tadi Tito gak ada dan gak pulang."Jawab mbak Lastri.
"Tadi sebelum maghrib dia keluar rumah,tapi sampai sekarang belum
pulang."Lanjut mbak Lastri.

Orang semakin banyak yang datang.
Entah atas ide siapa,kemudian mereka mengambil peralatan peralatan dapur.
Ada yang membawa piring dan sendok,nyiru dan alu juga ada yang bawa linggis.
Peralatan peralatan itu dipukul pukul sambil
berteriak:"Tito,Tito,kamu di mana nak?"
Itu cara memanggil orang bila disembunyikan hantu...?

Orang orang mendatangi tempat tempat sekitar yang dianggap wingit.
Mereka menyebar,ada yang ke pohon randu besar dekat lapangan dan ada
yang mencari di kuburan cina.

Pencarian dari jam tujuh sampai jam sebelas malam tidak membuahkan
hasil,sebagian dari mereka pulang,hanya beberapa orang mampir ketempat
mbak Lastri menghiburnya.
"Sudahlah,besok juga akan dikembalikan sama Gendruwo itu."Hibur mereka.
Beberapa saat ketika mereka berbincang datang seorang naik sepeda
motor memboncengkan anak kecil.

"Itu Tito!"teriak mereka.
Mbak Lastri dan mas Wargiman suaminya langsung mendatangi orang itu
dan mengambil Tito.
"Di mana mas,menemukan Tito?"tanya mas Didin pada orang yang membawa Tito.
Orang yang ditanya tidak menjawab,tapi langsung masuk rumah untuk
pamit mas Wargiman.
Mereka berbincang dengan mbak Lastri dan mas Wargiman sebentar dan pergi.

Tito diajak keluar dari kamar menemui orang orang.

"Kamu kemana aj To?"tanya pak Antan.
"Saya diajak orangtua berjenggot putih nonton di alun alun,terus
diajak pulang orang tadi."Jawab Tito.
Berita menyebar satu desa,bahwa Tito anak mbak Lastri dibawa hantu.

Kisah itu terjadi beberapa bulan sebelum aku dan istriku tinggal di
tempat ini.

Kisah kisah mistis yang kadang membuat istriku takut jika aku tinggal
kerja malam.
"Gitu aja takut,cuma bayang bayang sendiri,tenang saja sudah aku
pagari tempat kita dengan pagar gaib."aku bohongi istriku untuk
menghiburnya.

"Benar to mbak Tri,Tito dulu pernah hilang dibawa hantu?"tanya
istriku kepada mbak Lastri pada satu kesempatan.

Mbak Lastri tersenyun sambil berbisik menjelaskan:"Tito itu waktu aku
ajak main ke alun alun tidak aku sadari lepas pegangan tangannya dan
ia hilang diantara orang orang."Jawab mbak Lastri.
"Aku cari sampai jam tujuh gak ketemu,aku pulang,dan kang Wargiman marah."
"Aku juga takut disalahkan oleh orang orang,dan ternyata Tito
diketemukan teman kang Wargiman terus diantar pulan."terang mbak
Lastri lebih lanjut.
"OH,,,"Istriku bengong di antara bisik bisik mbak Lastri.

Barangkali kita bisa saling menginspirasi,mohon bila coppy paste sertakan link ke blog ini dan tulis pengarangnya.Terimakasih sahabat cerpen dunia maya